background

Cegah Ancaman “Loss Learning” Akibat Pandemi

Cegah Ancaman “Loss Learning” Akibat Pandemi

 

 

Pandemi COVID-19 ini cukup menghantam berat siswa dan tenaga pendidik. Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dijalankan sejak Maret 2020 terpaksa menjadi solusi untuk melanggengkan proses pendidikan. Namun PJJ yang sudah berjalan  satu setengah tahun tersebut bisa membawa masalah baru yang berkepanjangan, salah satunya yaitu learning loss

Learning Loss (Kehilangan Pembelajaran) merujuk kepada sebuah kondisi hilangnya sebagian kecil atau sebagian besar pengetahuan dan keterampilan dalam perkembangan akademis yang biasanya diakibatkan oleh terhentinya proses pembelajaran dalam dunia pendidikan. Learning loss menurut The Glossary of Education Reform (https://edglossary.org/) diartikan sebagai kehilangan atau keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang merujuk pada progres akademis, umumnya terjadi karena kesenjangan yang berkepanjangan atau diskontinuitas dalam pendidikan. Seperti yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo, khawatir dengan masalah learning loss. Jika saat ini kurikulum menargetkan 12 bab untuk 1 mata pelajaran, maka di kala pandemi sekolah hanya mampu mengejar 5 bab saja. Itupun jika materi tersebut dipahami benar oleh siswa. Akibat mengejar ketertinggalan tersebut, tak heran jika beberapa guru mengirimkan banyak tugas online sebagai ketentuan penilaian.

Dampak Learning Loss (Kehilangan Pembelajaran) kondisi ini terus berlanjut maka dikhawatirkan akan banyak siswa yang pengetahuan dan keterampilannya tidak sebaik sebelum pandemi terjadi. Sebagai ilustrasi apabila siswa kelas 2 Sekolah Dasar yang seharusnya sudah lancar membaca teks pendek kemudian menjadi kurang lancar membaca, maka ketika tahun ajaran depan ia duduk di bangku kelas 3 akan mengalami kesulitan memahami bacaan. Ini akan menyulitkan siswa di kelas atas (Kelas 4, 5, dan 6) nantinya, karena mata pelajaran lain (seperti Ilmu IPA, IPS, PKn dll) sudah mengharuskan mereka memahami bacaan-bacaan yang terkait dengan mata pelajaran tersebut. Ini tentunya akan berpengaruh ketika siswa duduk di Sekolah Lanjutan Pertama (SMP) dan seterusnya sampai ke Sekolah Menengah Atas.   Yang harus guru lakukan sebagai salah satu aktor penting dalam mengurangi resiko Learning Loss. kondisi bahwa kemungkinan besar siswa mengalami kehilangan pembelajaran pada semester I, maka disarankan agar guru dapat terlebih dahulu melakukan pre-assessment (Pra-penilaian) untuk memetakan kesiapan siswanya sebelum membuat bahan ajar semester II. Apabila ternyata ada siswa yang mengalami menurun kemampuannya maka guru dapat menyesuaikan bahan ajar yang akan diajarkan pada semester II ini. Jika siswa dipaksakan untuk langsung belajar materi semester II yang mereka belum paham, maka dikhawatirkan bahwa siswa akan stress dan akhirnya tidak dapat menyerap apa yang dipelajari (Renata Numela Caine dalam 12 Brain/Mind Learning Principle in Action: 2008). Untuk yang terakhur adalah Upaya Kemdikbud dan kemeneg untuk mencegah learning loss melalui pembuka sekolah harus diikuti dengan upaya pemulihan kemampuan belajar. Upaya pemulihan ini dibutuhkan agar siswa mampu mengejar ketertinggalanya akibat terlalu lama belajar dalam kondisi darurat.

 

 

 

 

-------

Berita ini pernah terbit pada lama dwijendranews.com : https://dwijendranews.com/2021/04/29/cegah-ancaman-loss-learning-akibat-pandemi/