background

Gerakan Penganekaragam Konsumsi Pangan Perlu Edukasi Semua Pihak

Gerakan Penganekaragam Konsumsi Pangan Perlu Edukasi Semua Pihak

Oleh Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.MMA
Setelah satu tahun pemerintah mengeluarkan Perpres No. 66 Tahun 2021 tertanggal 29 Juli 2021 tentang Badan Pangan Nasional, berbagai kebijakan telah dirumuskan dan diimplementasikan, termasuk dengan gagasan melaunching Gerakan Penganekaragaman Konsumsi Pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman) yang akan diselenggarakan nanti pada tanggal 31 Juli 2022 di Jakarta.

Gerakan tersebut sebenarnya telah sejak lama dicanangkan yaitu program diversifikasi pangan, namun belum memberikan hasil yang optimal karena berbagai kendala di masyarakat dan di level pemangku kebijakan. Secara sederhana, program diversifikasi pangan atau penganekaragaman pangan merupakan suatu upaya untuk menganekaragamkan berbagai jenis pangan yang dikonsumsi yang mencakup pangan sumber energi dan zat gizi guna memenuhi kebutuhan pangan secara cukup baik menyangkut aspek kuantitas maupun kualitasnya.

Dalam pembangunan pertanian, diverisifikasi pangan harus dipahami dan dimaknai sebagai diversifikasi produksi pangan dan sekaligus diversifikasi konsumsi pangan karena keduanya akan saling berkaitan khususnya dalam mewujudkan ketahanan pangan di masyarakat.

Pangan yang akan dikonsumsi masyarakat sangat mempengaruhi sistem pola tanam, teknologi pengelolaan budidaya tanaman untuk menghasilkan produk pangan yang dibutuhkan masyarakat, demikian juga sebaliknya.

Oleh karena itu, Gerakan penganekaragaman konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman perlu dilihat dari hulu sampai ke hilir dan bahkan faktor-faktor yang secara pokok mempengaruhinya dan faktor-faktor pendukungnya.

Diversifikasi produksi pangan melalui pengelolaan tanaman didasarkan pada lingkungan geografis dan alam atau sumber daya alam pendukungnya yang disertai dengan aplikasi teknologi guna menghasilkan produksi yang tinggi dan memiliki kualitas yang layak untuk dikonsumsi.

Kebijakan production mapping atau pemetaan produksi semakin dibutuhkan untuk menentukan berbagai jenis komoditas pangan yang akan diproduksi dalam jumlah yang tertentu pada wilayah-wilayah yang secara agroklimat memberikan dukungan untuk pengembangan komoditas pangan.

Sementara itu, diversifikasi konsumsi pangan berkenaan dengan produk-produk yang akan dikonsumsi secara langsung maupun tidak langsung oleh konsumen atau masyarakat.

Hal ini berkenaan dengan adanya produk-produk pangan yang langsung dapat dikonsumsi, dan terdapat produk pangan yang harus diproses terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

Pada intinya, diversifikasi konsumsi pangan ini diarahkan agar masyarakat tidak hanya tergantung pada satu jenis produk saja, misalnya beras tetapi juga produk pangannya lainnya yang memiliki fungsi sebagai sumber energi, nutrisi, dan gizi yang sama atau setara, misalnya jagung, ketela, umbi-umbian, gandum dan lain sebagainya.

Saat ini, Sebagian besar penduduk Indonesia masih mengkonsumsi beras sebagai sumber pangan yang wajib. Sehingga tidak jarang terdengar bahwa warga masyarakat mengatakan belum makan sebelum mengkonsumsi nasi, padahal sudah mengkonsumsi roti, kue, buah-buahan, kentang, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, dalam Gerakan Penganekaragaman Konsumsi pangan sangat dibutuhkan upaya yang sistematis dari tingkat pusat sampai ke desa terhadap kebijakan dan program pemerintah.

Kebijakan tersebut harus membumi dan terimplementasi secara bertahap. Pengurangan satu jenis pangan seperti beras harus secara paralel diikuti dengan peningkatan produksi pangan non-beras dan disertai dengan kualitas produknya baik dalam bentuk mentah dan juga bentuk olahan yang sesuai dengan kebutuhan dan selera masyarakat.

Berbagai slogan kedaerahan dapat dikumandangkan guna merangsang warga masyarakat untuk memulai menganekaragamkan pola konsumsinya. Setidaknya terdapat beberapa sifat produk pangan non-beras yang dikonsumsi adalah: memiliki kandungan energi, kalori dan protein yang cukup tinggi atau setara dengan beras; dan komoditasnya dapat dikembangkan dalam skala lokal dan makro serta potensi produktivitasnya tinggi.

Edukasi kepada masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan terhadap penganekaragaman konsumsi pangan agar terus dilakukan secara intensif dan berkelanjutan oleh berbagai pihak, tidak semata-mata oleh pemerintah.

Teknologi pengolahan pangan atau industri pangan lokal menjadi salah satu alternatif guna mendukung program penganekaragaman konsumsi pangan, dimana teknologi tersebut dapat memberikan nilai tambah (ekonomis, rasa, mutu, gengsi) bagi masyarakat baik sebagai pengelola maupun konsumen. Produk-produk pangan non-beras yang dihasilkan dan dikonsumsi didorong untuk memunculkan rasa bangga dan terhormat mengkonsumsi pangan lokal non-beras atau yang tercampur dengan beras secara proporsional, dan sekaligus mengangkat budaya pangan lokal.

Gerakan penganekaragaman konsumsi pangan perlu dimulai dari skala yang paling kecil yaitu rumah tangga sampai pada tingkat yang lebih luas. Dengan demikian, tujuan untuk memperkuat dan memperkokoh ketahanan pangan melalui system pangan yang terintegrasi dapat terwujud di tanah air.

 

 

-------

Berita ini pernah terbit pada laman atnews.id