background

Makna Tumpek Krulut

Makna Tumpek Krulut

Opini| Hari Raya Tumpek menurut  wuku adalah pertemuan  pancawara keliwon dan saptawara saniscara ( saniscara keliwon. Hari raya ini biasa disebut dengan rainan atau rerainan yang tergolong dewa yadnya yakni persembahan kepada para dewa. Hari Raya tumpek dalam perhitungan kalender bali ada enam  yaitu : , Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye, dan Tumpek Wayang. Hari Raya Tumpek dilsanakan setiap sebulan sekali. Hari Raya Tumpek identik dengan perayaan pemmujaan aspek Ketuhanan sesuai dengan jenis Hari Raya Tumpek yang dilaksanakan.

Tumpek Landep, pemujjaan Hyang  Pasupati,  ungkapan rasa terima kasih umat Hindu khususnya di Bali terhadap Sang Hyang Widi Wasa yang turun ke dunia dan memberikan ketajaman pemikiran kepada manusia. Adapun ketajaman itu layaknya senjata yang berbentuk lancip/runcing seperti keris, tombak dan pedang.Tumpek wariga,  sering disebut tumpek bubuh atau tumpek ngatag, memuliakan tuhan dalam manifestasinya memelihara tumbuh-tumbuhan. Pada Hari Raya kali ini pemujaan terhadap manifestasi Tuhan sebagai Dewa Sangkara penguasa tumbuh-tumbuhan sebagai wujud rasa terima kasih yang sangat dalam terhadap kekayaan alam yang melimpah ruah. Tumpek kuningan, perayaan klemenangan dharman melawan adharma,  melakukan pemujaan kepada para Dewa, Pitara untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin..Tumpek uye  atau Tumpek kandang umat menghaturkan persembahan pada Sang Hyang Rare Angon sebagai manifestasi dari Dewa Siwa yang berfungsi sebagai penguasa dan penjaga semua binatang. Tumpek Wayang, memuja dewa siwa dalam menjaga kesucian dan  keseimbangan alam semesta

 Hari Raya Tumpek Krulut dilaksanakan pada setiap hari Saniscara Kliwon Wuku Krulut. Hari Raya ini merupakan hari raya tentang seni atau keindahan. Menurut I Wayan Sunampan Putra ( dalam jnana Siddhanta Jurnal Prodi Teologi Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja ) Perayaan Hari Raya Tumpek Krulut biasanya diwujudkan dengan melakukan upacara keagamaam dengan menggunakan sarana upacara pada segala jenis tetabuhan seperti; gong, kebyar, granting, kendang serta alat tetabuhan lainnya yang biasa digunakan oleh para seniman. Tumpek Krulut juga dikenal dengan nama Tumpek Lulut. Kata lulut dalam bahasa Bali berarti jalinan atau rangkaian/kasih. Pada reraianan ini, umat Hindu di Bali memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara. Sebagaimana dalam kehidupan adat dan budaya di Bali dikenal adanya gamelan sebagai sarana yang menampilkan tabuh atau suara-suara suci, Maka, Tumpek Krulut pun identik dengan sebutan odalan gong. Dari sini diambil makna agar perangkat suara untuk kelengkapan upacara tersebut memiliki taksu dan suara yang indah

Makna dari Hari Raya Tumpek Krulut yakni dari arti arti lulut yang memiliki arti senang, gembira, suka cita atau bahagia. Artinya segala sensasi seni yang ditimbulkan pada tetabuhan dapat menciptakan suasana bahagia bagi para penikmat seni. Contoh kecil yang bisa dilihat yakni, ketika seseorang mendengar halunan gamelan saat perayaan upacara keagamaan, maka secara tidak langsung akan mencipatakan sensasi senang yang ditandai dengan menggerakkan kepala, kaki, atau tangan seakan-akan para pendengar sebagai pemain gamelan tersebut. Dari hal inilah suara gamelan yang mengalun indah dapat memberikan rasa senang bagi pendengarnya. Nilai Teo Estetis dalam Hari Raya Tumpek Krulut Hubungan antara seni dan teologi tidak terlepas  dalam ajaran agama Hindu, yang mana estetika selalu beriringan dengan hal yakni Satyam merupakan kebenaran, Siwam merupakan kesucian, dan Sundaram merupakan keindahan. Sesuatu yang indah tidak hanya sebatas sesuatu yang ditangkap oleh indra, akantetapi juga oleh kulitas moral dan kesucian (sakral). Dari hal ini maka Hari Raya Tumpek Krulut memiliki nilai teoestetis yakni keindahan dalam aspek teologis. Keindahan selalu berkaitan dengan teologis atau Ketuhanan. Hari Raya Tumpek Krulut tidak saja memperingati hari tentang seni tapi juga memperingati hari tentang aspek Ketuhahan adalam bentuk seni, dalam alat-alat gamelan terkandung nyasa (simbol) yang didalemnya bersemayam para dewa yakni Dewa Iswara (Dang), Dewa Siwa (Ding), Dewa Brahma (Deng), Dewa Wisnu (Dung), dan Dewa Mahadewa (Dong). Lebih lanjut juga dikatakan bahwa pada alat gamelan juga bersemayam para dewi-dewi yakni: Dewi Mahadewi, Dewi Umadewi, Dewi Saraswati, Dewi Sri dan Dewi Gayatari. Dari hal tersebut maka alat-alat seni (tetabuhan) yang digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali tidak terlepas dari konsep Ketuhanan dengan manisfestasinya para dewa dewi. Pada Keyakinan masyarakat Hindu, secara khusus memuja Aspek Ketuhanan sebagai dewa seni yang biasa disebut dengan Dewa Siwa Nataraja. Siwa Nataraja adalah manisfestasi Dewa Siwa sebagai dewa seni dengan penggambaran Dewa Siwa yang sedang menari. yang digambarkan dengan tarian Dewa Siwa sebagai manisfestasi seni. Hal ini memperlihatkan bahwa aspek teologis tidak terpisahkan dari keberadaan seni pada kehidupan masyarakat Bali. Begitupula dengan manisfestasi Dewi Saraswati sebagai dewi seni yang disimbolkan dengan membawa kecapi (alat musik). Dewi Saraswati dipercaya sebagai dewi seni yang menggambarkan segala bentuk kehindahan. Hal yang lebih jelas terlihat dari segala bentuk simbol-simbol yang melekat pada penggambaran Dewi Saraswati seperti; perwujudan Dewi Saraswati yang cantik, sesuatu yang cantik identik dengan keindahan. Kesan yang cantik juga menarik untuk dipandang dan bisa menimbulkan rasa senang, begitupula dengan konsep keindahan bisa menimbulkan rasa senang lulut. Dewi Saraswati disimbolkan dengan mengggunakan kecapi yang merupakan simbol dari kesenian, keindahan atau rasa seni merupakan bagian dari kehidupan manusia. Burung merak menyimbolkan sesuatu yang indah, hal ini terlihat dari tampilan bentuk dan warna dari burung merak. Bunga teraratai memiliki tampilan yang indah sebagai tempat duduk Dewi Saraswati. Dewi saraswati merupakan dewi seni dan dewi kebudayaan, hal ini terlihat dari konsep Dewa Brahma sebagai dewa pencipta begitupula dengan Dewi Saraswati sebagai saktinya Dewa Brahma sebagi pencipta. Proses penciptaan merupakan bentuk dari kebudayaan yang berasal dari kriatifitas budhi, rasa, dan karsa, Dewi Saraswati sebagai dewi para musisi, Beliau sebagai pencipta ritma, nada, dan melodi. Beliau selalu diingat sebagai tujuh nada sa, re, ga, ma, pa, da, ni. Beliau juga dikenal sebagai Svaratmika atau jiwa musik. Beliau dikenal sebagai Saraswati karena memberikan pengetahuan dari tujuh nada musik. Para musisi biasanya membuat persembahan khusus kepada Saraswati. Berdasarkan uraian tersebut memperlihatkan adanya konsep teoestetis atau teologi seni dalam Hari Raya Tumpek Krulut, yang mana Hari Raya Tumpek Krulut merupakan hari pemujaan untuk seni yang ditandai dengan mengaturkan upacara pada alat-alat tetabuhan. Pada alat-alat tetabuhan terdapat energi spiritual yang dipancarakan. Energi ini adalah manisfestasi dari aspek teologis. Aspek seni dan Ketuhanan memberikan pemahaman pada konsep seni yang tertuang pada satyam, siwam dan Sundaram.  Nilai Etika dalam Hari Raya Tumpek Krulut ini sejalan dengan makna Tumpek Krulut yang memiliki arti lulut yakni senang atau Bahagia,menerangkan bahwa Hari Raya Tumpek Krulut merupakan hari perayaan cinta kasih, persaudaraan. Pada ajaran etika Hindu ajaran cinta kasih merupakan suatu hal yang senantiasa diwujudkan untuk menjalin hubungan yang harmonis, serasi dan selaras. Seperti halnya dengan bunyi gamelan yang beranekaragam dapat mengasilkan suatu bunyi yang merdu dan indah. Kasih sayang dalam ajaran etika Hindu adalah implemtasi falsafat Tat Twam Asi yang artinya semua adalah sama, serta Vasudewa Kutumbakam yang artinya kita adalah bersaudara. Konsep tersebut merupakan konsep moral yang memandang bahwa manusia dengan sesama adalah suatu kesatuan yang sama serta harus bisa menjalin hubungan yang harmonis agar mewujudkan suatu kebahagiaan lahir batin. Melalui hubungan sosial manusia sebagai anggota dari kelompok sosial begitu juga setiap individu sebagai bagian dari aspek sosial senantaisa selalu baik dalam berpikir, berbicara, maupun dalam bertindak atau menjalankan tugas selalu bersama-sama. Dengan senantiasa bersama-sama maka akan mewujudkan hasil yang sama serta dapat diterima bersama-sama. Antara pikiran, perkataan, serta tindakan hendaknya memiliki suatu kesamaan. Hal ini sejalan dengan ajaran Tri Kaya Parisudha tentang tiga hal yang harus disucikan agar bisa berjalan serasi meliputi; manacika yaitu pikiran yang baik, wacika yaitu perkataan yang baik, serta kaika yaitu perbuatan yang baik. Dengan berlandaskan pada ajaran Tri Kaya Parisudha maka akan berimplikasi pada hubungan solidaritas sosial yang harmonis.*)

 

 

-------

Berita ini pernha terbit pada laman sunarpos.com