background

Pelajaran dari Tragedi Stadion Kanjuruhan

Pelajaran dari Tragedi Stadion Kanjuruhan

 

 

Oleh : Stefania Yunita Jun
Mahasiswa Prodi PBID Pertukaran MBKM pada Fikombis Universitas Dwijendra

Sepak bola olahraga paling populer dan merakyat, siapapun berpeluang menjadi pemain andalan di berbagai club sepak bola. Baik tingkat lokal, regional, nasional hingga tidak menutup kemungkinan tingkat Internasional. Si bundar menjadi indah di atas rumput hijau, di giring dan di perebutkan oleh dua club yang berhadapan. Pekik terikan suporter memberi semangat para jagoanya yang berlaga di atas lapang sepak bola, tendanga dan sundulan dengan variasi gaya para pemain dengan skill yang menarik dan menggoda para suporter.
Gemuruh suara suporter dalam stadion menggema, alunan suara bersahutan dinyanyikan masing-masing kelompok suporter untuk menyemangati clubnya. Berbagai atribut club di pakai, baik itu tshirt, topi, syal, dan akseoris lainnya sebagai penghias. Bahkan, club-club sepak bola nasional memiliki suporter militan yang melekat dalam komunitasnya.
Di Bandung terkenal dengan bobotoh Persib dan Viking Persib, di Jakarta terkenal dengan Jakmania, di Surabaya pun terkenal dengan suporter Bonek dan Arek-arek Suroboyo, tidak ketinggalan di Kota Malang dengan suporter Aremania. Dan banyak suporter lainnya yang mewakili club kesayangan masing-masing daerah, namun yang lain tidak seheroik club-club yang memiliki suporter militan dan fanatik seperti yang di sebutkan di atas.
Dunia sepak bola nasional berduka, di Stadion Kanjuruhan menjadi saksi keberutalan pihak-pihak yang terlibat, moment tersebut harus mendidik suporter lebih humanis, hindari kekerasan yang mematikan. Nyawa melayang sia-sia bergelatakan bak hewan yang keracunan, berbagai media meliput kejadian tersebut di awali dengan keributan antara aparat kepolisian dengan pihak suporter dan pemain sepak bola, dan akhirnya meluas hingga keos tak terhindarkan. Gas air mata dikeluarkan dengan harapan suporter bubar dan menjauhi area keributan, namun naas sekali justru menimbulkan banyak jiwa melayang baik dari pihak kepolisian maupun suporter sepak bola. Ini tragedi pemecah record selama sejak awal kompetisi sepak bola di Indonesia, menelan korban jiwa hingga tewas berjumlah ratusan orang. Artinya ada hal yang salah dalam setting keamanan kompetisi tersebut, sudah pasti di awali oleh sikap para pihak yang tidak dewasa, tidak jujur dan tidak adil.
Kita bisa melihat dengan kasat mata, para suporter sepak bola lebih banyak di dominasi generasi milenial yang notabene generasi masa depan bangsa. Tidak dipungkiri hampir setiap laga para club sepak bola kebanggaanya bertanding, para suporter rela merogok saku dalam-dalam untuk membeli tiket berharap bisa nonton langsung di stadion. Pekik suara keras dan lontaran kata-kata tidak baik pun terdengar sudah lumrah, bahkan caci maki pada pemain dilapangan sering terjadi, termasuk antar suporter tidak bisa di hindari hingga keributaan dan kerusuhan tidak bisa di hindari. Sejumlah 131 orang tewas (oktober 2022) menjadi korban kerusuhan yang di pantik oleh sikap tidak dewasa dan adil para pihak. Seharusnya momentum kompetisi sepak bola menjadi ajang menguji diri dari nafsu amarah, yang menanamkan sikap jujur dan adil. Suporter sebagian besar generasi pembelajar, penting bagi para orang tua, guru, dosen, tutor dan ustadz yang banyak bersentuhan dengan mereka kiranya memberikan pemahaman yang komprehensif tetang pentingnya menjaga sikap suporter yang santun dan beradab.
Mengaca pada tragedi Stadion Kanjuruhan maka ada beberapa hal penting yang patut dijadikan pelajaran dalam penyelenggaraan kompetisi sepak bola ke depan :

  1. Para suporter agar semakin dewasa menyikapi sebuah kompetisi. Jika hal ini tidak diatensi maka potensial terus terjadi kerusuhan disetiap pertandingan
  2. Aparat keamanan yang bertugas dalam sebuah pertandingan agar dipersiapkan secara matang baik dari segi strategi, perlengkapan, dan kematangan emosional serta menggunakan pendekatan kemanusiaan
  3. Panitia pelaksana agar sigap memperhitungkan dari segala aspek dan lini untuk antisipasi keamanan pertandingan.
  4. Agar semuanya dapat dikontrol maka perlu antisipasi dengan membuat berbagai regulasi untuk dijadikan acuan yang jelas
  5. Ada sanksi yang tegas dan adil bagi semua pihak yang terlibat dan mampu efektif untuk pencegahan ke depan
  6. Evaluasi menyeluruh dari hulu ke hilir penyelenggaraan Event kompetisi
  7. SOP penyelenggaraan harus jelas dan rinci serta ada sosialisasi kepada semua stakeholder

 

 

 

-------

Berita ini pernah terbit pada laman Sunarpos.com