background

Pelaksanaan Persembahyangan Sugihan di Pura Yayasan Dwijendra

Pelaksanaan Persembahyangan Sugihan di Pura Yayasan Dwijendra

 

 

Bertepatan dengan Hari Werespati (Kamis) Wage  wuku Sungsang, tgl 29 Desember 2022, civitas Dwijendra University melaksanakan persembahyangan  bersama dalam rangka Hari raya Sugihan Jawa. Sugihan Jawa merupakan salah satu rangkaian Hari Raya Galungan. Pelaksanaan Sugihan Jawa diperingati enam hari sebelum hari raya Galungan. Wakil Rektor II Dwijendra University, Bapak I Made Sila menuturkan makna hari raya sugihan jawa sebagai penyucian Bhuana Agung

“Jika ditinjau dari penamaannya, kata Sugihan Jawa berasal dari urat kata sugi yang memiliki arti membersihkan dan jawa artinya luar. Sehingga, Sugihan Jawa dirayakan sebagai hari penyucian secara sekala maupun niskala terhadap alam makro atau bhuana agung. jadi, bisa diartikan Sugihan Jawa adalah upacara yang dilaksanakan untuk membersihkan Bhuana Agung atau alam semesta, baik secara sekala maupun niskala”, tuturnya.

Prosesi saat Sugihan Jawa dilaksanakan pamretistan ring Bhatara Kabeh melalui upacara mererebu di Pura  yang selanjutnya dilaksanakan pengerebuan pada semua banguan yang ada di lingkungan Yayasan Dwijendra Itulah sebabnya, Sugihan Jawa juga disebut dengan istilah parerebon yang menandai turumya semua Bhatara ke dunia, dalam  rangkaian hari raya Galungan. Besok pada hari Sukra (Jumat) keliwon Sungsang tanggal 30 Desember 2022  akan dilaksanakan sugihan Bali , yang memiliki makna untk membersihkan diri ( bhuana ) alit 

Menurut Lontar Sundarigama dijelaskan :

Sungsang, rehaspati wage ngaran parerebwan, sugyan jawa kajar ing loka, katwinya sugyan jawa ta ngaran, apan pakretin bhatara kabeh arerebon ring sanggar mwang ring parhyangan, dulurin pangraratan, pangresikan ring bhatara, saha puspa wangi.

Kunang wwang wruh ing tatwa jana, pasang yoga, sang wiku anggarga puja, apan bhatara tumurun mareng madyapada, milu sang dewa pitara, amukti banten anerus tekeng galungan.

Artinya Kamis Wage Sungsang disebut dengan parerebon  atau dikenal dengan sugihan jawa . Dinamakan sugihan jawa  karena merupakan hari suci bagi para Bhatara untuk melakukan  rerebu di sanggah dan parahyangan, di sertai dengan pangrarata dan pembersihan untuk bhatara dengan kembang wangi.

Bapak Made Sila yang juga merupakan mantan Bendesa Adat Puhu ini, mengungkapkan orang yang mempunyai kemampuan dalam  tatwa akan melakukan yoga semadi , para pendeta akan melakukan pemujaan tertinggi , karana Bhatara akan turun  ke dunia diiringi oleh para dewa pitara untuk persembahan sampai hari Galungan , Ngerebu dilakukan untuk membersihkan bhuana  agung  menyongsong hari galungan , alam semesta beserta isinya dalam keadaan besih dan terbebas dari segala noda.

 

 

 

-------

Berita ini pernah terbit pada laman sunarpos.com